Selasa, 16 Juli 2013

Mengapa Kita Mengantuk pada Malam Hari?

Mengantuk pada dasarnya adalah sinyal alami yang dikirimkan oleh otak kepada tubuh kita apabila sel-sel otak sudah mulai lelah dan butuh istirahat.
Mengapa otak butuh istirahat? Well, dalam kurun waktu 24 jam, pada umumnya manusia memerlukan waktu istirahat (tidur) selama 7 hingga 8 jam. Jika kurang dari itu, tubuh akan terasa lemas dan sulit berkonsentrasi. Sel otak yang telah bekerja seharian akan mengalami kekurangan oksigen dan menjadi lelah. Oksigen sangat diperlukan oleh sel otak untuk tetap mendapatkan cukup energi untuk beraktifitas. Nah, apabila otak mulai kekurangan oksigen, produktivitasnya akan terganggu dan perlu istirahat (tidur) untuk memulihkan diri.
Untuk bisa beristirahat, otak yang kelelahan itu akan mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh kita melalui perasaan mengantuk dan ingin tidur. Apabila dipaksakan justru akan menjadi bahaya. Bayangkan saja, otak yang sudah capek bekerja seharian dipaksakan untuk tetap bekerja dengan pasokan oksigen sebagai sumber tenaga yang minim. Pernah dengar kutipan bahwa kita akan lebih cepat mati akibat kurang tidur dibandingkan kekurangan makan? Hal itu benar adanya, sebab tidak ada obat untuk sel otak yang kelelahan selain tidur yang cukup. Jadi, untuk memastikan otak kita mendapatkan cukup oksigen dan tetap bisa bekerja dengan baik hingga usia tua, pastikan kamu mendapatkan istirahat yang cukup ya.
Untuk waktu istirahat sendiri, sebenarnya sih tidak harus malam hari. Tubuh kita memiliki mekanisme tersendiri yang kita sebut sebagai jam biologis. Yaitu pencatatan otomatis kapan kita perlu tidur, kapan tubuh melakukan pembuangan zat beracun dan sebagainya. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan dan pola hidup seseorang. Untuk orang-orang yang sudah terbiasa bekerja pada malam hari, tentu saja jam biologisnya tidak sama dengan kita yang terbiasa bekerja pada siang hari. Namun tetap ada beberapa kelebihan beristirahat pada malam hari, seperti yang pernah kami tulis di artikel terdahulu.
Namun harap berhati-hati juga, terlalu sering mengantuk, apalagi jika kita telah mendapatkan porsi tidur yang cukup bisa juga merupakan gejala beberapa penyakit seperti anemia (kekurangan darah), diabetes melitus atau gangguan tidur lain. Jadi jika kamu mengalami perasaan pengantuk yang terlalu sering dan terasa tidak wajar, tidak ada salahnya untuk menghubungi dokter secepatnya. (ak)


Source :
sains.me

Rabu, 26 Juni 2013

Fujitsu 'Sulap' Kertas Jadi Touchscreen

Seperti smartphone dan tablet, kertas pun bisa menjadi media layar sentuh. Teknologi terbaru yang dikembangkan Fujitsu, memungkinkan jari-jari si pengguna 'menari' di atas kertas seperti bernavigasi pada layar smartphone.

Rabu (17/4/2013), teknologi milik Fujitsu tersebut bisa mendeteksi objek yang disentuh jari, kemudian mengubah permukaan apapun, termasuk kertas, meja atau dinding menjadi media touchscreen.

"Sistem ini tidak menggunakan hardware khusus. Hanya berisi perangkat webcam dan proyektor biasa. Kemampuan 'menyulap' ini didapat dengan teknologi image processing," jelas Taichi Murase, peneliti di Media Service System Lab Fujitsu.

Seperti terlihat dalam video presentasi, diperlihatkan bagaimana kita bisa memanipulasi data pada selembar kertas, menggunakan gerakan jari. Seperti di smartphone atau tablet, pengguna bisa mengkopi gambar atau teks lalu menyimpannya ke memori.

Tak hanya pada permukaan yang datar, teknologi ini juga bisa diaplikasikan di permukaan yang melengkung atau tidak rata. Ini memberikan keuntungan agar bisa memanipulasi data dari media seperti buku.

Meski teknologi ini masih dalam tahap peragaan, para peneliti di Fujitsu berencana mengembangkannya untuk kepentingan komersial. Diharapkan pada tahun fiskal 2014, produk ini sudah bisa dirilis ke pasar.

Berikut adalah video peragaan cara kerja teknologi ini:



Source : Detik inet

Senin, 10 Juni 2013

Ada Monster Tak Kasatmata ! Percaya ?

Foto-foto objek ruang angkasa biasanya tampak indah dan mengagumkan. Yang paling menarik adalah adalah foto-foto itu memperlihatkan kepada kita hal-hal yang tak terlihat oleh mata manusia.
Foto yang satu ini juga demikian. Di tengah-tengah foto ini terdapat monster tak kasatmata bernama lubang hitam supermasif. Ahli petak-umpet ini lebih sulit lagi untuk diselidiki karena bersembunyi di balik awan debu yang tebal di tengah-tengah galaksi tempat tinggalnya.

Bahkan bola cahaya yang kalian lihat ini adalah jejak-jejak cahaya yang tidak bisa dilihat oleh mata kita begitu saja. Warna pink menunjukkan cahaya radio, sedangkan sinar-X diperlihatkan dalam warna biru.


Siapa sangka ada monster tak kasatmata di tengah foto ini: si lubang hitam! Dan dia menyebabkan terjadinya semburan dahsyat! (Kredit: Sinar-X: NASA/CXC/SAO/A.Siemiginowska dkk; Optik: NASA/STScI; Radio: NSF/NRAO/VLA)

Lubang hitam bukanlah ruang kosong. Jangan terkecoh dengan namanya, ya. Lubang hitam adalah materi yang banyaaaaak sekali tapi menempati ruang yang sangaaaaaaaaat kecil.

Massanya sekitar 100 juta kali massa Matahari! Apapun yang lewat terlalu dekat dengan si lubang hitam bakal terhisap dan tidak bisa meloloskan diri, bahkan termasuk cahaya.

Itu sebabnya kenapa kita tidak bisa melihat lubang hitam, bahkan teleskop yang bisa mendeteksi sinar-X, gelombang radio, dan jenis cahaya lainnya pun tidak bisa.

Satu-satunya cara supaya kita bisa mengetahui dimana lubang hitam adalah dengan mendeteksi efek yang ditimbulkannya pada objek-objek lainnya.

Misalnya, bagian berwarna biru sepanjang tepi galaksi di foto ini menunjukkan dimana semburan energi-tinggi telah menembus gumpalan debu galaksi.

Semburan itu berasal dari partikel-partikel yang menjadi panas ketika tertarik menuju lubang hitam. Karenanya partikel-partikel tersebut mendapatkan energi untuk kabur dari lubang hitam dengan kecepatan jutaan kilometer per jam! Tampak dua jet pink yang menyembur ke arah utara dan selatan galaksi.

Lubang hitam bukan satu-satunya objek di alam semesta yang tidak bisa kita lihat. Para astronom masih belum bisa memecahkan misteri "Energi gelap" dan "materi gelap" yang mengisi 97% alam semesta kita ini. Kurang dari 5% alam semesta kita diisi materi "normal".

Sumber : 

Apakabardunia.com
langitselatan.com